Ajakan pertama ini datang dari seorang sahabatku yang ingin sekali ke papandayan. Persiapan dilakukan dengan ala kadarnya. Bermodal sandal gunung, Sleeping Bag, Body pack, dan tak lupa tentengan makanan. Keadaanku kurang sehat sempat berpikir untuk mengcancel perjalanan ini tapi aku urungkan niat. Aku hanya membawa obat seadanya (terutama obat batuk karena sedang batuk). Jam 7 malam kami bertemu di terminal senen menuju Kp. Rambutan. Bus berjalan sangat lambat membuat kami berdua deg deg an karena takut terlambat. Akhirnya sampailah kami di Kp. Rambutan, sempat malu tanya apakah kami berada di tempat yang benar atau bukan. Akhirnya TS pun datang menghampiri kami dan mempersilahkan kami bergabung dengan yang lainnya. Tetapi bukannya bergabung kami malah menjauh karena minder. Minder karena yang lain benar - benar seperti ingin naik gunung dengan bawa carrier segede - gedenya sedangkan kami membawa body pack dan tentengan. Rasa ingin kabur hinggap kepada kami tapi kami urungkan karena kami ingin melakukan perjalanan ini. Sekitar jam setengah 11 malam bus meluncur menuju SPBU di Tanjung Garut.
Jam 3 dini hari pagi kami sudah sampai di SPBU Tanjung Garut, Kami tidur sebentar di mesjid sambil menunggu solah subuh. Matahari pun menyapa kami dengan sinarnya yang lembut dan kami melanjutkan perjalanan kami menuju basecamp menggunakan 2 mobil pick up. Jalan yang kami lalui setelah tugu selamat datang kec. cisurupan benar - benar off road. Perjalanan menanjak karena kelebihan berat sehingga beberapa orang harus turun berkali - kali hingga akhirnya kami sampai di Basecamp.
 |
| Narsis dulu di Basecamp sebelum trekking |
Entah jam berapa kami semua mulai trekking.. Medan yang kami lalui berbatuan dan berkerikil jadi licin. dalam perjalanan aku melihat satu keluarga dengan membawa putri mereka yang berumur 2 tahun. Ya Allah anak sekecil itu aja bisa kenapa aku tidak. Dengan semangat yang ada aku mulai jalan sedikit demi sedikit sambil sesekali berhenti untuk berfoto - foto (alesan aja padahal pengen istirahat).
 |
| Start Trekking by Cika |
 |
| Little family with litte angel by Cika |
Perjalanan dilanjutkan dengan membawa beban, perjalanan begitu terasa berat kupikir Ijen berat dengan kemiringan 25-35 derajat dan medan berpasir ternyata ini lebih berat karena beban yang harus dibawa - bawa sedangkan ke ijen aku tidak membawa apa pun. Di persimpangan kami bertemu dengan kang denz selaku TS (maklum ketinggalan rombongan) dia menunjukkan jalan, kami menaiki jalan berbatuan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan medan berbatuan.
 |
| Menuju Hutan mati by Cika |
Menurutnya setelah kami melewati jalan ini kami akan bertemu dengan hutan mati dan jalanan akan landai hingga pondok seladah (ini yang jangan dipercaya sama pro hikking. landai apanya masih banyak tanjakkannya -,-"). Lama - lama banyak yang mulai gontai dan kelelahan sehingga kami sering berhenti untuk beristirahat. Kang denz pun selalu berkata 15 menit lagi kita sampai di pondok seladah (ini yang jangan dipercaya juga sama pro hikking. Memang maksudnya biar menyemangati kami yang para pemula). Dia juga selalu berkata lurus terus belok sedikit kita sampai (-,-" maksudnya tetap untuk menyemangati kami agak kami tetap kuat)
Akhirnya setelah berjuangan dengan keras kami sampai juga di pondok seladah dan ada beberapa teman yang sudah mendirikan tenda bahkan sudah ada yang mulai memasak makan dan membuat minuman hangat. Setelah selesai beristirahat dan makan siang, kami semua sempat berfoto - foto di belakang tenda.
 |
| Aku dan cika di dalam tenda |
Sore sebelum maghrib tiba aku, Cika, dan Silfi sempat turun ke toilet. Disini sudah berdiri MCK seadanya kami sempat turun ke MCK yang di bawah melewati aliran sungai kecil disini aku terpleset karena licin. Damn... dasar orang tidak bertanggung jawab. Masa MCK umum seperti ini masih ada pembalut dengan darah (yakzzzz... jorok banget) walau darahnya sudah hilang tapi masih berbecak. -,-". (Tolong doang hargain alam dan buang ketempat yang seharusnya malu loh).
Malam pun datang menyelimuti kami semua. Malam ini kami membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kami sambil berkenalan satu sama lain (ini yang membuat aku senang). Dan malam ini kami disambut dengan ribuan bintang dilangit yang menghiasi malam ini. Taburan bintang yang sangat banyak seperti butiran gula yang ada di langit.
 |
| Api ungun by Ajeng Dwi Indriyani |
 |
| Langit malam ini penuh taburan bintang by Faldhy Boer |
Ada beberapa orang yang kembali ke tenda untuk tidur tetapi aku melanjutkan bersama mereka yang masih merapat di api unggun. Mereka banyak cerita hingga cerita mistis (ini yang aku tidak suka). Entah kenapa aku merasa ada yang aneh bahkan sempat merinding hingga malam pun mau ke MCK merasa ada yang perhatikan ngga mau berpikir apa - apa tapi terlintas hingga ngga bisa tidur dalam tenda. Aku sempat merasakan getaran seperti gempa tapi tidak bisa tanya siapa - siapa karena yang lainnya sudah tidur. Dan aku sempat membuka tenda beberapa kali. Pertama entah jam berapa aku membuka tenda karena mendengar ada suara ketawa orang tapi pas di cek ngga ada orang aku langsung cepat menutup tenda dan kembali tiduran diantara teman - teman.. yang kedua kalinya aku membuka tenda karena ada suara jalan orang karena penasaran aku buka kembali tetapi hari masih gelap dan ada satu orang lewat di depan tenda. Masih sama takut aku kembali kedalam dan aku benar - benar bangun ketika dari tenda milik kang denz memasang musik keras - keras menandakan sudah ada kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar